Punya pertanyaan tentang kelas, jadwal, atau cara bergabung? Kami siap membantu! Baik Anda pemula maupun sudah berpengalaman, kami dengan senang hati menyambut Anda.
A glance about our late Hanshi Nardi T. Nirwanto S.A.
Shihan Nardi was the first person from Indonesia who was directly trained in Honbu Tokyo, Japan, under direct guidance of Grand Karate Master Masutatsu Oyama, the founder of Kyokushin Karate. Their relationship became very close, with intimate and regular correspondence, even during the hard time of IKO political struggle.
A glance about our late Hanshi Nardi T. Nirwanto S.A.
Shihan Nardi was the first person from Indonesia who was directly trained in Honbu Tokyo, Japan, under direct guidance of Grand Karate Master Masutatsu Oyama, the founder of Kyokushin Karate. Their relationship became very close, with intimate and regular correspondence, even during the hard time of IKO political struggle.
During ‘Special Black Belt Course for Instructors’ 1970, Shihan Nardi with all other participants all over the world had to undergo an extreme hard training (compare to normal person). Daily training three times a day for the whole week, 10.00 – 12.30 continued with next training 15.00 – 17.30 and 19.00 – 21.30. Of course Jiyu Kumite is the ‘main course’. Every week at least 6 to 8 times, one by one. Many of the participants left the Course silently, but Shihan Nardi remain stay till the end of the Course.
At the end of 1970 Shihan Nardi went back to Indonesia with Special Award from Master Oyama due to his dedication, loyalty, spirit and strength during the training. Later, he spent several times continuing his training in Tokyo Honbu (july 1971 and 1972) till he reached 3rd DAN degree. At the All Japan Karate Open Tournament 1972, Master Oyama requested Nardi to stand on the fighting stage and Master Oyama gave him Special Award on behalf of Kyokushinkai-Kan and personal, and announce in front of audience that Nardi is The Branch Chief and Chief Instructor for Indonesia and he has Oyama strong support.
At the World Open Karate Tournament II in 1979, Shihan Nardi received the 4th DAN in Tokyo. And finally at the Asia Pacific Tournament in Jakarta 1981, Shihan Nardi received his 5th DAN by Master Oyama.
Shihan Nardi passed away at the Hospital in Malang on Sept 22nd 2009. Then he was regarded as Hanshi.
Liliana Herawati
Saya dilahirkan di Balikpapan pada tanggal 9 Mei 1979.
Pertama kali masuk di Perguruan PEMBINAAN MENTAL KARATE KYOKUSHINKAI KARATE-DO INDONESIA sekitar tahun 1992, karena mengikuti kegiatan Ekstra Kurikuler di SMP IMMANUEL Batu, Malang. Pembina saya waktu itu adalah Almarhum Senpai Suhartadi, beliau adalah salah satu anggota Polisi di Batu.
Saya dilahirkan di Balikpapan pada tanggal 9 Mei 1979.
Pertama kali masuk di Perguruan PEMBINAAN MENTAL KARATE KYOKUSHINKAI KARATE-DO INDONESIA sekitar tahun 1992, karena mengikuti kegiatan Ekstra Kurikuler di SMP IMMANUEL Batu, Malang. Pembina saya waktu itu adalah Almarhum Senpai Suhartadi, beliau adalah salah satu anggota Polisi di Batu.
Menerima-tingkatan-DAN-I-dari-Hanshi-Nardi-saat-Peresmian-HONBU-tahun-2006 Tradisi minta tanda tangan Hanshi di karategi selesai Ujian DAN
Kedekatan yang terjadi antara saya dengan almarhum Hanshi akhirnya membuat saya menjadi salah satu anak angkat beliau. Begitu banyak pelajaran hidup, nasehat dan didikan yang saya terima dari beliau, yang sangat berpengaruh dalam membentuk mental dan karakter saya sebagai manusia.
Bersama Hanshi Nardi saat di Tamiang Layang tahun 2008 Foto bersama saat kunjungan ke Tamiang Layang tahun 2008 didampingi Senpai Budi Hartono no 2 dari kanan dan Sensei Yandi Gunawan no 1 dari kiri. (Senpai Budi Hartono salah satu anak angkat Hanshi Nardi dan menjabat sebagai Pimda & Kabid Daerah Kalimantan Tengah waktu itu) Acara Jambore di Coban Rondo tahun 2007 Mendampingi Hanshi Nardi saat ke Makam Sensei S.P. Koesasih salah satu Pembina Senior di Banjarmasin
Salah satu kata-kata beliau yang selalu saya ingat adalah :
Sebaik baiknya orang selalu ada yang tidak suka, dan sejahat jahatnya orang selalu ada pendukungnya.
Kalau kamu yakin yang kamu lakukan benar, maka jangan pernah berhenti hanya karena orang-orang yang tidak menyukaimu.
Kebaikan yang kamu lakukan disaat diri sendiri kekurangan adalah kesempatan yang Tuhan berikan untuk menambah Berkat bagi orang-orang yang kamu sayangi.
Foto bersama dengan Alm. Hanshi dan Alm. Senpai Freddy salah satu anak angkat Hanshi saat pernikahan Michelle dan Donny Foto keseruan bersama saat santai di Bogor,acara Sarasehan Sabuk Hitam II 2008 Sebagai Sekretaris Pusat Perguruan saat membantu Hanshi Nardi dalam pelaksanaan Ujian DAN di HONBU
Pada tahun 2000, setelah Presidium dibekukan, saya diminta oleh Hanshi untuk membantu menjadi Sekretaris Pusat Perguruan sampai tahun 2009. Kemudian setelah beliau wafat, dengan dasar Surat Wasiat saya menerima Amanah sebagai Pimpinan Pusat Perguruan.
Semoga kita semua dengan kerendahan hati dan ketulusan jiwa tetap bersatu, saling menghormati dan menghargai, bersama sama ikut mempertahankan dan mengembangkan Perguruan yang kita cintai ini.
Karateka menyesuaikan diri dengan lingkungannya,bukan sebaliknya.
R. A. Walewangko
Richard Arnold Walewangko, masih aktif membina di usianya 73 tahun di tahun 2019 ini. Beliau tidak pernah berhenti membina Karate, baginya Karate sudah seperti Soul Mate alias belahan jiwa. Bahkan pasca operasi jantung pada tahun 2012, Walewangko segera kembali latihan dan membina di dojo.
Richard Arnold Walewangko, masih aktif membina di usianya 73 tahun di tahun 2019 ini. Beliau tidak pernah berhenti membina Karate, baginya Karate sudah seperti Soul Mate alias belahan jiwa. Bahkan pasca operasi jantung pada tahun 2012, Walewangko segera kembali latihan dan membina di dojo.
Pria kelahiran 3 Mei 1946 di Tolitoli, Sulawesi Tengah ini tetap bugar, dapat disebabkan karena beliau pernah bertugas di TNI AL tahun 1968 – 1988. Sebelum berlatih di PMK Kyokushinkai, beliau sempat aktif bertinju (yg mengakibatkan pendengarannya sedikit mengalami gangguan sekarang ini). Ketika berlatih Kyokushinkai, beliau jatuh cinta dan memutuskan berhenti dari bertinju.
Saat membina, teriakan Kiai nya masih lantang dan keras, “Teriakan ini juga yang bikin jantung saya bisa tetap kuat meskipun sudah pernah operasi jantung dan pasang ring satu”, jelasnya. Dengan berteriak terus di setiap latihan, beliau merasakan jantungnya terus terpompa dan semakin membaik. Penyempitan pembuluh yg pernah dialami jantungnya tidak memburuk lagi. Sebenarnya setelah operasi dia disarankan oleh dokter untuk beristirahat lama. Tetapi karena merasa tubuhnya tidak seperti orang sakit, Walewangko kembali membina sekaligus berlatih karate kembali. Selisihnya hanya tiga hari pasca operasi.
“Jadi, saya ibaratnya memang nggak pernah berhenti latihan. Paling lama nggak latihan mungkin seminggu aja kalau lagi liburan akhir tahun sama tahun baru”, jelasnya. Dengan melakukan latihan karate, Walewangko merasa lebih muda lagi dan sehat.
“Kalau di tempat saya latihan dan mengajar itu, yang paling tua usianya 50 tahun, ya saya merasa seumuran sama dia. Rasanya memang begitu”, ungkapnya.
Dalam seminggu, Walewangko mengajar mulai Senin sampai Jumat. Setiap hari melatih selama dua jam. Walewangko yang pernah mengikuti World Open Karate Tournament I tahun 1975 di Tokyo Jepang, mengatakan tidak ingin pensiun dari mengajar Karate. “Usia berapapun, saya akan terus berlatih dan mengajar. Nggak pernah kepikiran buat pensiun. Kecuali, memang saya sudah tidak bisa bergerak lagi”, jelasnya.
Ada sebuah cerita dari salah satu teman seperguruan yang juga mengalami hal yang sama dengan Walewangko terkait dengan Operasi jantung. “Setelah operasi yang pertama dia kan masang ring satu kayak saya. Terus, setelah 1 – 2 tahun, nambah lagi ring. Sampai sekarang, ringnya sudah lima. Itu mungkin terjadi karena dia berhenti berlatih”, tuturnya. Dari pengalaman tersebut, selain tetap menjalani hobi Karate sejak usia 20 tahunan ini, dia ingin tetap membuat jantungnya terpompa dengan baik lewat latihan-latihan yang dilakukan setiap melatih. “Soalnya kalau di perguruan Karate Kyokushinkai Karate-do Indonesia ini, meskipun saya melatih, saya juga mempraktekkan barengan sama yang lain, tidak cuman kasih komando”, terangnya.
Beliau berpesan kepada seluruh warga Perguruan :
Oss. Tetap Semangat untuk Berlatih dan terus Berlatih serta Bersama kita membangun Kebersamaan demi Mewujudkan Cita2 Hanshi Nardi T Nirwanto SA. Oss🙏🙏
Markam Kiswoto
Mulai latihan PEMBINAAN MENTAL KARATE KYOKUSHINKAI bulan Juli tahun 1973 di Dojo KONI Yogyakarta dengan pelatih Senpai A. F. Handi P.
Ujian Pertama pada bulan April 1974
Bulai Mei 1974 pindah ke Jakarta dan tinggal di Rawasari, Jakarta Pusat.
Tempat, Tanggal Lahir: Sleman, 18 Agustus 1949 (KTP 1955)
Mulai latihan PEMBINAAN MENTAL KARATE KYOKUSHINKAI bulan Juli tahun 1973 di Dojo KONI Yogyakarta dengan pelatih Senpai A. F. Handi P.
Ujian Pertama pada bulan April 1974
Bulai Mei 1974 pindah ke Jakarta dan tinggal di Rawasari, Jakarta Pusat.
Mulai berlatih di Jakarta bulan Agustus 1974 di Dojo Katedral (dengan pelatih Senpai Stefanus Wawolangi, Senpai Unang Hendrawan dan Senpai Richard H. Susilo), Dojo Matraman (dengan pelatih Senpai Andi Susila), Dojo UI Jakarta, Dojo KONI Jakarta, dan Dojo SMAN 4 Jakarta.
Tahun 1977 mulai membantu melatih di Dojo Katedral dan Dojo Matraman.
Tahun 1979 bulan Oktober resmi menjadi Pembina – Co Asst.Instructur. Setelah resmi menjadi Asisten Instruktur, lalu membuka cabang di Rawasari pada tahun yang sama. Dojo Cabang Rawasari.
Oktober 1979, menjadi Asisten Pembina. Foto diambil di Honbu Dojo lama, Jl. Panglima Sudirman, Batu, Malang. Dojo Cabang Rawasari.
Tahun 1980 membuka cabang di Sunter, Jakarta Utara dan Marsudirini di Matraman. Melatih di Dojo Hayam Wuruk dengan Senpai Ricky W serta membuka cabang OEB. (gambar dibawah warga Dojo Kemayoran).
Tahun 1981 bulan Mei memperoleh tingkatan DAN I
Saya belum pernah mengikuti Kejurda maupun Kerjurnas karena waktu itu tidak ada pembagian kelas pertandingan dan berat badan saya sekitar 50-52 kg dengan tinggi 154 cm. Sehingga belum pernah ikut bertanding apalagi juara. Tapi warga saya banyak yang pernah juara, contohnya sekitar tahun 80-an mengantar Rudi G Susilo, Anton Simbolon, Hadi Sunyoto juara pada Kejuaraan Beregu di Semarang. King Yonathan menjadi juara nasional di Jakarta. Tahun 1984 Hendri Yonathan, Lie Ching Fat juara 1 dan 2 Kejurda di Palembang. Pada tahun yang sama Hendra Yonathan juara pertama Nasional di Bandung.
Tahun 1984, dari Kiri Hendra Yonathan (Juara Nasional). Mulyono( Juara II), Senpai Didik Sucipto (Juara III)Kejurda Plus di Palembang, DKI meraih juara I dan II. Foto dari Kanan sebelah saya Hendri Yonathan juara I, Kedua dari Kiri Lie Ching Fat juara II Palembang.
Setelah selesai kuliah tahun 1985, pindah kembali ke Yogyakarta dan membuka cabang di Banguntapan, SMA Bopkri Bantul, AAU Adisucipto dan STIMIK El-Rahma, membina bersama dengan Senpai Yunus Hariyanto.
Menikah pada tahun 1988.
Awal tahun 1989 pindah ke Kalimantan, membuka Dojo di Jelapat, Batula khusus security dan juga membantu melatih di Dojo Banjarmasin umum.
Atas instruksi Shihan Nardi T. Nirwanto SA (alm) pada akhir tahun 1991 pindah ke Bandung di Perusahaan Rugos milik Senpai Hendro Saputro.
Di Bandung membuka cabang di Kantor Rugos, Jalan Setiabudi, serta melatih bersama Senpai Handi Santoso di ITB, UNPAR, UNTAR, dan UNKRIS.
Tahun 1996 pindah lagi ke Yogyakarta dan membuka cabang lagi di SMAN 1 Jetis dan SMAN 1 Banguntapan.
Tahun 2011 pindah lagi ke Jakarta. Melatih di cabang Senayan dan Cempaka Putih bersama Sensei Siono Anggono.
Akhir tahun 2016 kembali lagi ke Yogyakarta hingga saat ini menjadi anggota Dewan Guru.
Kesan-kesan saya terhadap Almarhum Shihan Nardi
Shihan Nardi adalah orang yang sangat menghargai orang lain. Contohnya Jika saya diundang untuk membantu mengawas ujian DAN atau ujian Pembina selalu di tempatkan di penginapan – Hotel terpisah dari para peserta ujian. Dan datang ke Dojo atau balik ke Hotel selalu dijemput Senpai Raim atau Kaicho Liliana Herawati waktu itu. Saya rasakan perbedaannya setelah Hanshi tiada.
Pesan untuk warga perguruan : “Jangan berhenti Latihan, jadikanlah Latihan sebagai kebutuhan dan bukan kewajiban, karena Sehat itu mahal Harganya.” Oss.
Alex Suantoro
Alex Suantoro lahir di Kediri, 20 November 1960 dan mulai berlatih saat kelas 5 SD di Dojo Surabaya Umum (Ketabang Kali) dengan Pembina Sensei R.A.Walewangko, Senpai Freddy Yulianto, Senpai Handy dan Senpai Bogem Suwandi (almarhum).
Alex Suantoro lahir di Kediri, 20 November 1960 dan mulai berlatih saat kelas 5 SD di Dojo Surabaya Umum (Ketabang Kali) dengan Pembina Sensei R.A.Walewangko, Senpai Freddy Yulianto, Senpai Handy dan Senpai Bogem Suwandi (almarhum).
Memperoleh Tingkatan DAN I pada tahun 1983. Saat ini menyandang tingkatan DAN V yang diperoleh pada tahun 2017 Aktifitas resmi di organisasi di mulai dari menjadi Pembina di Dojo Surabaya Umum dan Dojo Panglima Sudirman, pada saat tingkatan Dan I. Hingga kini masih aktif sebagai Ketua Dewan Pembina dan juga melatih di Dojo Black Belt Surabaya.
Foto bawah : Kejurnas Sirkuit II di Balai Sidang Jakarta, 26 Oktober 1985
Kegiatan kejuaraan yang pernah diikuti diantaranya : Kejurda Jatim saat Kyu VI, Kejurnas Jatim saat Kyu IV, Kejurnas tahun 1993, dll. Kejuaraan Nasional di Jakarta adalah salah satu yang paling berkesan karena berhasil menyelesaikan pertandingan hingga final dari malam hingga subuh karena peserta yang banyak, walaupun dengan sistem gugur.
Hanshi Nardi T Nirwanto SA adalah orang yang paling berpengaruh dalam hidup Alex Suantoro. Didalam pengalamannya, Hanshi Nardi T Nirwanto S.A adalah orang yang tegas dalam berlatih tetapi memiliki hati yang lembut dan penyayang dalam kegiatan sehari-hari di luar latihan.
Salah satu nilai dari Hanshi Nardi yang diperoleh oleh Alex Suantoro adalah : Disiplin waktu dan menjadi orang yang tegas dalam bertindak, dan juga lebih dapat menghargai sesama dalam hidup sehari hari
Perguruan Pembinaan Mental Karate ini mempunyai Kesan yang mendalam bagi Alex Suantoro, karena kita bisa menjadi satu keluarga dengan adanya ikatan batin yang kuat dengan sesama anggota seperguruan
Pesan untuk warga Perguruan : Berlatihlah terus dan jangan menyerah sampai akhir!DOJO BLACK BELT – SURABAYA
DOJO BLACK BELT – SURABAYA
Didik Soetjipto
Didik Soetjipto lahir di Bondowoso, 13 Desember 1958. Memulai latihan Karate di Pembinaan Mental Karate Kyokushinkai Karate do Indonesia, di Dojo Umum Bondowoso pada usia 14 tahun (masih bersekolah kelas 6 SD) sekitar tahun 1972. Saat itu Asisten Instrukturnya (red: sekarang disebut Pembina) Senpai Unang Hendrawan. Setelah lulus latihan khusus Asisten Instruktur di tahun 1974 (waktu itu masih Kyu 4) ditugaskan melatih di Bondowoso, Jember, Situbondo, Banyuwangi.
Didik Soetjipto lahir di Bondowoso, 13 Desember 1958. Memulai latihan Karate di Pembinaan Mental Karate Kyokushinkai Karate do Indonesia, di Dojo Umum Bondowoso pada usia 14 tahun (masih bersekolah kelas 6 SD) sekitar tahun 1972. Saat itu Asisten Instrukturnya (red: sekarang disebut Pembina) Senpai Unang Hendrawan. Setelah lulus latihan khusus Asisten Instruktur di tahun 1974 (waktu itu masih Kyu 4) ditugaskan melatih di Bondowoso, Jember, Situbondo, Banyuwangi.
DOJO BONDOWOSO tahun 1975DOJO JEMBER tahun 1980 an.
“Seluruh hidup saya abdikan hanya untuk berlatih dan melatih Karate di Pembinaan Mental Karate. Praktis hidup saya hanya melatih Karate saja. Sehingga tidak pernah bekerja (bisnis). Terus saya aktif melatih ber pindah2 tempat karena dimasa itu Asisten Instruktur di Pembinaan Mental Karate sangat langka dan sedikit jumlahnya”, demikian beliau berkisah.
Saat itu, satu Asisten Instruktur bisa menangani sampai minimal 4 Dojo. “Saya juga dikirim (diutus) melatih ke Tegal, Pekalongan, Cirebon, Bandung, Medan, Surabaya dan Malang.
DOJO TEGAL
Tahun 1981 ditugaskan merintis Perguruan dan melatih di Padang. Saat itu ada 8 Dojo di Padang dengan total warganya ada 1000 an. “Dalam seminggu saya melatih hingga 16 x. Tingkatan Dan I saya peroleh sekitar tahun 1979.”
DOJO PADANG tahun 1982
Tahun 1979 terpilih sebagai wakil Indonesia dalam Kejuaraan Dunia yg ke 2 di Tokyo. Ada 2 orang wakil dari Indonesia, Didik Soetjipto, Andy Susila dan bertindak sebagai Team Manager Richard Soesilo.
Mengikuti Kejuaraan Dunia ke 2 di Tokoyo ini adalah hal yg paling berkesan dimana peserta Indonesia dengan postur tubuh yang kecil namun (saya), walaupun menghadapi lawan yg besar dari Iran dengan tinggi 2 meter lebih dan dengan berat badan 100 kg-an, namun saya mampu mengalahkan lawan dgn skor 5 – 0.
Pada tahun 1981 mengikuti Kejuaraan Asia Tenggara yg diselenggarakan di DKI Jakarta.
Tahun 1985 Juara Nasional dalam Kejurnas Sirkuit Nasional 2 Siliwangi Cup di Jakarta.
Pada tahun 1998 memperoleh tingkatan DAN IV.
Pengalaman yg sangat berkesan bersama Hanshi Nardi T Nirwanto SA adalah kebersamaan dan kebapakan beliau terhadap saya. Beliau selalu menasehati bahkan tidak segan2 datang kerumah saya di Bondowoso. Itu yg membuat saya terkesan bahwasanya Hanshi adalah sosok pribadi yg dekat dengan murid2nya.
“Hingga saat ini kenapa saya masih mau berada di Perguruan Pembinaan Mental Karate, karena sejak kecil saya berlatih Karate mulai usia 14 tahun sudah mempunyai ikatan bathin yg kuat terhadap Perguruan ini. Ibaratnya saya adalah Kyokushinkai dan Kyokushinkai adalah saya. Kyokushinkai dalam arti adalah Perguruan Pembinaan Mental Karate.”
Hingga saat ini di usia yg sudah tidak muda lagi, Didik Soetjipto masih aktif menjadi bagian dari Perguruan Pembinaan Mental Karate tercinta ini.
“Kalau ditanya suka duka selama berada di Perguruan Pembinaan Mental Karate, sepertinya lebih banyak dukanya daripada sukanya. Duka yg saya alami adalah setiap hari hanya hidup latihan Karate saja. Melatih dari satu tempat ketempat yg lain yang cukup melelahkan.
Dari satu kota kekota yang lain dengan menumpang bus umum ( kalau sekarang bus nya bagus-bagus, dulu saya pakai “bus klutuk”). Kadang uang saku pas2an, sampai menahan lapar dikota orang.”
“Tapi semua yang saya lakukan dgn perasaan senang, ikhlas dan suka.”
“Pesan2 saya kepada generasi muda, generasi penerus Perguruan : Semoga mempunyai semangat yang lebih dari Seniornya dan menjaga serta mencintai Perguruan dengan Hati yang bersih dan tulus.”
“Demikian sekilas perjalanan hidup saya, suka duka saya selama ada didalam Perguruan.”
Oss
Gunawan Wijaya
Salah satu legenda di Perguruan Pembinaan Mental Karate Kyokushinkai Karate Do Indonesia yang sejak usia dini hingga sekarang di usia mendekati setengah abad tanpa terputus masih aktif terlibat baik di dalam Kejuaraan-Kejuaraan Nasional, maupun membina warga di dojo.
Salah satu legenda di Perguruan Pembinaan Mental Karate Kyokushinkai Karate Do Indonesia yang sejak usia dini hingga sekarang di usia mendekati setengah abad tanpa terputus masih aktif terlibat baik di dalam Kejuaraan-Kejuaraan Nasional, maupun membina warga di dojo.
Lahir di Semarang, pada 7 July 1972. Awal berlatih Kyokushin di Dojo Sasana Suka Semarang pada usia 7 tahun (1979) di bawah asuhan Sensei Iwan A. Cahyadi (almarhum) dan Sensei Soen Cia Ie (Soenaryo Pinandoyo). Tertarik berlatih Karate Kyokushinkai karena diperkenalkan oleh kakaknya sendiri, Andre Wijaya.
Bersama almarhum Sensei Iwan A. Cahyadi dan team Jawa Tengah, saat Kejuaraan Nasional 2010 di GOR Sumantri Brodjonegoro, Jakarta.
Memperoleh tingkatan DAN III di tahun 1998.
Kejuaraan yang pertama kali diikuti adalah Kejuaraan Se Jawa pada tahun 1980 di kelas junior dan langsung meraih Juara II.
Mulai tahun 1989 (usia 17 tahun) sudah mulai membina (dulu disebut Co Ass Instruktur) pada beberapa dojo (Dojo SMA Sedes, Dojo Weleri, Dojo Hasanudin) yang sekarang sudah bubar semuanya. Saat ini aktif membina di Dojo RRI Semarang.
Gunawan Wijaya mempunyai kesan yang amat mendalam terhadap Perguruan Pembinaan Mental Karate karena ikatan Persaudaraan se perguruan se Indonesia yang amat kuat. Kemanapun beliau bepergian di Indonesia, setiap bertemu saudara seperguruan, langsung menjadi akrab.
Thropy yang berhasil dikumpulkan sejak kanak2 (kelas yunior), remaja, dan dewasa sudah sangat banyak karena di setiap Kejuaraan yang diikuti nyaris selalu membawa pulang thropy juara, yang kalau dikumpulkan kurang lebih ada 50 thropy.
Sepanjang periode 80 – 90 an, Gunawan merajai mulai dari kelas Yunior, Remaja, Dewasa <60 kg, Dewasa 61-70 kg.
Setiap partai pertandingannya, maka penonton akan merangsek maju dan antusias menonton. Beliau mempunyai daya tarik tersendiri bagi khalayak pencinta Kyokushin karena ciri khas tendangan Yokogeri (side kick), Ushiro Mawashi geri (spin round house kick) yang sangat ringan dan cepat seperti berakrobat tetapi mematikan. Juga Gedan mawashi geri yang khas dengan timing yang nyaris selalu tepat, sehingga membuat lawannya terpelanting jatuh. Sesuai pertambahan usia dan berat badan, Gunawan sekarang masih aktif bertanding di kelas bebas (71 kg keatas). Dengan berat sekitar 80 kg, berbekal segudang pengalaman, Gunawan masih mampu menjuarai kelas bebas dengan mengalahkan lawan-lawannya yang beratnya 100 kg dan lebih muda usianya.
Jalan-jalan setelah bertanding, di Tokyo
Dari berbagai macam kejuaraan yang diikuti, yang paling berkesan adalah saat bertanding pada Kejuaraan Dunia di Tokyo, Jepang pada tahun 2016. Bangga bisa mewakili Indonesia walau akhirnya kalah angka pada perpanjangan waktu saat menghadapi Karateka dari Polandia.
Pada Kejurnas di Balikpapan 2011 berhasil Juara I walaupun mengalami cedera hingga harus dijahit 10 jahitan.Walaupun berdarah, tetap melanjutkan pertandingan hingga selesai.
Disamping itu, Gunawan juga secara kebetulan berlatih Judo karena ada kegiatan extra kurikuler di sekolahnya, mulai SMP sampai Mahasiswa. Tingkatan terakhir DAN II Judo. Berbagai Kejuaraan Judo tingkat Daerah maupun Nasional bahkan Internasional telah diikuti. Tahun 1993, Gunawan terpilih mewakili Jawa Tengah pada PON di Jakarta pada kelas 65 kg, walaupun tidak berhasil meraih medali. Ada sekitar 40 medali yang berhasil diperoleh dari Kejuaraan Judo ini.
Tahun 1995, saat itu Wushu masuk ke Indonesia dan mulai populer, saat itu Gunawan baru lulus SMA. Ada pelatih Wushu dari China datang ke Semarang dan mengadakan seleksi untuk Team Jawa Tengah. Dengan bekal kemampuan beladiri Kyokushinkai hasil latihan di Pembinaan Mental Karate Kyokushinkai Karate Do Indonesia, Gunawan akhirnya terpilih dan bertanding di Wushu San Shou baik di tingkat daerah dan nasional. Terpilih pula mewakili Jawa Tengah pada cabang Wushu SanShou sebanyak tiga periode berturut-turut. Pada PON tahun 1996 meraih medali Emas, PON tahun 2000 meraih medali Perunggu, dan pada PON 2004 meraih medali Perak. Pada SEA GAMES tahun 1997 di Jakarta, Gunawan terpilih mewakili Indonesia walaupun belum berhasil meraih medali.
Bermodalkan tempaan latihan keras di Pembinaan Mental Karate Kyokushinkai Karate do Indonesia, di tahun 1991 Gunawan mengikuti Kejuaraan Kick Boxing di Surabaya pada kelas 60 kg dan berhasil Juara 1. Kemudian saat ada Kejuaraan Kick Boxing di Indosiar pada tahun 1998, Gunawan mengikuti pada kelas 65 kg dan berhasil juga Juara 1. Pada tahun 2004, Gunawan mengikuti MMA di TPI Fighting Open Class, dan berhasil menjadi Juara 2 Nasional.
Karena kegigihan, keuletan, disiplin, ketekunan dan kerja kerasnya, almarhum Hanshi Nardi memberikan Piala Khusus untuk Gunawan. Tertulis pada plakat Piala tsb,
UNTUKMU GUNAWAN WIJAYA
SEJAK MASA YUNIOR REMAJA DEWASA
ENTAH BERAPAKALI ENGKAU "JUARA"
ENGKAU KARATEKA PERKASA
dari NARDI T. NIRWANTO SA
PUSAT PERGURUAN
7 MEI 1995
Pesan Sensei Gunawan Wijaya untuk warga Perguruan : Teguh Tegak Tegar selama hidup dan Bersatulah Perguruan kita agar lebih kuat dan sehat.
Raynard Raim
Mulai latihan Karate tahun 1988, berlatih di A.Yos Dojo Batu dengan Pembinanya Sensei Nurli Syamsudin.
Pertama kali ikut kejuaraan daerah di GOR Remaja Semarang tahun 1989.
Mulai latihan Karate tahun 1988, berlatih di A.Yos Dojo Batu dengan Pembinanya Sensei Nurli Syamsudin.
Pertama kali ikut kejuaraan daerah di GOR Remaja Semarang tahun 1989.
Pertama kali mulai membina tahun 2000 dst di A Yos Dojo Batu, lalu Dojo Mahameru Batu, Dojo TNH Mojokerto, Dojo Universitas Ma Chung Malang dan terakhir membuka dojo Warung Wareg di Batu.
Sampai saat ini trofi yang berhasil diraih berjumlah 22 trofi dari berbagai macam Kejuaraan.
Kejuaraan yg paling berkesan adalah Kejurnas di Semarang tahun 2014, karena saat itu cedera sangat parah, tapi syukurlah bisa mengikuti sampai selesai.
Didikan almarhum yg paling membekas adalah: “berbuatlah baik sampai kamu dipanggil sang Maha pencipta”, itu kata kata dari almarhum. Dan selama saya hidup dengan almarhum, semuanya terasa luarbiasa, beliau adalah orang yg paling sempurna, dalam keadaan apapun, selalu disimpan…….itu setahu saya.
Video proses latihannya bisa dilihat dengan mengklik foto diatas ini.
Proses memecah atau mematahkan leher botol itu proses nya lama sekali, kurang lebih 4 tahun berlatih, tidak pernah berhenti latihan, dimulai dengan memukul dengan shuto di makiwara, atau tanpa sasaran. Setelah itu mulailah latihan di botol dengan jumlah yang gagal kurang lebih 500 botol. Hingga akhirnya di hadapan almarhum, saya mencoba untuk pertama kalinya leher botol putus. Dan almarhum berkenan yang syuting videonya.
Klik pada foto untuk melihat video demo tameshiwarinya.Klik pada foto untuk melihat video demo tameshiwarinya.
Pesan untuk warga Perguruan: Berlatihlah yg sungguh sungguh, lebih baik membentuk seiken saja tapi yg benar dari pada semua hafal tapi tidak benar.
Oss
Raynard Raim
Di usianya yang sudah tidak muda lagi, Sensei Raynard Raim masih rutin berlatih stretching setiap hari. Semoga menjadikan inspirasi bagi karateka2 juniornya.