History

1939-1959

Masa Kecil dan Kecintaan terhadap Olahraga

Nardi T. Nirwanto S.A. lahir di Karangploso, Kabupaten Malang pada masa Perang Dunia II. Sejak kecil, ia hidup dalam kesulitan akibat pendudukan Jepang dan revolusi kemerdekaan. Meski begitu, semangatnya dalam berolahraga tumbuh kuat, terutama dalam renang, sepak bola, bulu tangkis, dan body building.

Ia terinspirasi dari metode Charles Atlas dan George Efferman, serta membiasakan diri dengan latihan yang mengembangkan ketahanan tubuh. Pada tahun 1957, ketika masih SMA, Nardi mulai tertarik pada seni bela diri karate setelah membaca kisah Masutatsu Oyama.

1959-1967

Perkenalan dengan Kyokushin Karate dan Korespondensi Internasional

Tahun 1959, Nardi mulai berkorespondensi dengan Master Oyama melalui bantuan Mas Agung dari Toko Buku Gunung Agung. Ia mendapatkan buku-buku penting seperti What is Karate dan This is Karate. Di tahun yang sama, ia juga menjalin persahabatan dengan A. Yoshida sensei yang mengenalkannya lebih dalam pada Kyokushin Karate. Melalui latihan rutin dan disiplin, pada awal tahun 1967, Nardi berhasil meraih tingkatan DAN I berdasarkan penilaian Yoshida sensei. Ia bersumpah mengabdikan hidupnya pada karate.

1967

Pendiriannya terhadap Filosofi Karate dan Awal Perguruan

Pada tanggal 7 Mei 1967, Nardi memulai latihan resmi bagi tiga murid pertama: Hendro Wibowo, Dwianto Setyawan, dan adiknya sendiri, St. Suprijadi. Tanggal ini dijadikan hari kelahiran perguruan bernama PEMBINAAN MENTAL KARATE – GO NO SEN. Filosofi Go No Sen, yaitu “bertahan adalah menyerang”, menjadi dasar moral perguruan. Walau awalnya meragukan antusiasme masyarakat, dalam waktu singkat sekitar 150 orang mendaftar untuk ikut berlatih di akhir tahun.

1967-1970

Perkembangan Perguruan dan Penyebaran di Jawa Timur

Latihan dilakukan tiga kali seminggu dalam tiga gelombang dan disambut baik oleh masyarakat. Dengan dukungan dari anggota senior yang disiplin dan bermental kuat, perguruan ini mulai menyebar ke Malang, Surabaya, Pasuruan, Probolinggo, dan Pusdik Arhanud Karangploso. Meskipun belum diakui resmi oleh Tokyo Honbu, semangat dan dedikasi anggota membuat perguruan makin dihormati. Nardi terus menjunjung prinsip bahwa ketekunan lebih penting daripada kecepatan dalam mencapai hasil.